BerandaTentang KamiLayananProdukBeritaKontak

Perusahaan Digugat atau Disomasi: Langkah Pertama yang Perlu Dilakukan

05 Nov 2026 7 menit baca
Perusahaan Digugat atau Disomasi: Langkah Pertama yang Perlu Dilakukan

Sebuah amplop atau email datang. Isinya bertuliskan "somasi" atau "panggilan sidang". Banyak pemilik usaha langsung panik, atau sebaliknya menyimpannya di laci dan berharap masalahnya hilang. Dua-duanya adalah reaksi yang wajar, dan dua-duanya berisiko. Langkah pertama yang tenang dan terorganisir bisa menentukan seberapa baik Anda menghadapi masalah selanjutnya.

 

CERITA ILUSTRASI: SURAT YANG TERSIMPAN DI LACI

PT milik Wulan menerima surat somasi dari mantan mitra yang menagih pembayaran. (Ini cerita rekaan.) Surat itu diletakkan di meja, dikira hanya gertakan. Beberapa minggu kemudian datang surat panggilan sidang, dan Wulan baru sadar tenggat sudah dekat, dokumen pendukung tersebar, dan tidak ada yang tahu siapa yang harus hadir mewakili perusahaan.

 

APA BEDA SOMASI DAN GUGATAN?

Ø  Somasi

Somasi adalah teguran atau peringatan tertulis agar pihak yang dituju memenuhi kewajibannya. Dasarnya dikenal dalam Pasal 1238 KUH Perdata, dalam kaitannya dengan kelalaian dan wanprestasi (Pasal 1243). Somasi bukan putusan pengadilan dan bukan proses pengadilan. Isinya biasanya memuat apa yang dituntut, dasar tuntutan, dan batas waktu untuk memenuhinya. Dalam praktik, somasi sering dikirim beberapa kali sebelum perkara dibawa ke pengadilan, meski tidak ada ketentuan baku yang mewajibkan jumlah tertentu. Somasi juga tidak selalu diperlukan, misalnya bila perjanjian sudah menetapkan tenggat waktu yang mutlak.

Ø  Gugatan

Gugatan adalah proses di pengadilan. Anda akan menerima surat panggilan sidang yang disampaikan resmi oleh pengadilan, dan ada jadwal sidang yang harus diikuti. Ini lebih serius dan memiliki konsekuensi hukum langsung, termasuk bila Anda tidak hadir.

Singkatnya: somasi adalah peringatan sebelum perkara, gugatan adalah perkaranya sendiri.

 

BAGIAN 1: JIKA MENERIMA SOMASI

1. Langkah 1: Tarik napas, jangan diabaikan

Somasi bukan putusan, tapi bukan juga hal yang boleh diabaikan. Menanggapinya dengan baik bisa menunjukkan itikad baik dan membuka ruang penyelesaian damai.

2. Langkah 2: Catat tanggal terima dan batas waktu

Tulis kapan Anda menerima, lewat apa, dan tenggat yang diberikan. Simpan surat asli dan amplopnya.

3. Langkah 3: Baca dengan teliti

Perhatikan siapa pengirimnya, apa yang dituntut, dasar tuntutannya, dan batas waktunya. Jangan hanya membaca judul dan angka tagihan.

4. Langkah 4: Periksa kewenangan pengirim

Pihak yang berhak mengirim somasi adalah kreditur atau kuasanya. Untuk perusahaan, somasi umumnya disampaikan oleh pengurus atau pihak yang diberi kuasa tertulis. Bila dikirim oleh advokat, ia harus bertindak berdasarkan kuasa.

5. Langkah 5: Kumpulkan dokumen terkait

Kontrak, faktur, bukti pembayaran, korespondensi, berita acara, dan catatan komunikasi. Susun secara kronologis.

6. Langkah 6: Amankan bukti

Jangan menghapus, mengubah, atau membuang email, pesan, dan dokumen terkait. Beritahu tim agar tidak menghapus data, termasuk di perangkat dan aplikasi pesan.

7. Langkah 7: Nilai isi tuntutan secara jujur

Apakah tagihannya benar? Apakah ada bagian yang Anda akui, ada bagian yang tidak sesuai, atau ada hal yang perlu diklarifikasi? Jangan menyimpulkan sebelum memeriksa dokumen.

8. Langkah 8: Informasikan ke pihak yang berwenang di perusahaan

Direksi dan pihak terkait perlu tahu. Tunjuk satu orang sebagai penanggung jawab penanganan agar tidak ada informasi yang terpecah.

9. Langkah 9: Konsultasikan dengan advokat sebelum membalas, terutama jika nilainya besar

Sebelum Anda membalas atau mengakui apa pun secara tertulis, konsultasikan dulu. Balasan yang tergesa bisa merugikan Anda di kemudian hari.

10. Langkah 10: Balas secara tertulis dan tepat waktu

Jawaban bisa berupa:

- Memenuhi tuntutan, bila memang benar.

- Meminta klarifikasi atau dokumen pendukung.

- Membantah dengan alasan dan bukti.

- Menawarkan penyelesaian, misalnya cicilan atau pertemuan.

Gunakan bahasa yang sopan, faktual, dan tidak emosional.

 

BAGIAN 2: JIKA MENERIMA PANGGILAN SIDANG ATAU GUGATAN

Ini lebih mendesak. Beberapa hal penting:

1. Jangan abaikan panggilan sidang

Pengadilan memanggil secara resmi, dan ketidakhadiran bisa berakibat serius. Dalam hukum acara perdata, jika tergugat tidak hadir pada hari sidang padahal telah dipanggil secara resmi dan patut, hakim dapat menjatuhkan putusan verstek, yaitu putusan tanpa kehadiran tergugat. Putusan semacam ini bisa dijatuhkan apabila gugatan beralasan dan tidak melawan hukum.

2. Segera hubungi advokat

Menghadapi gugatan jauh lebih kompleks daripada menjawab somasi. Biasanya pihak yang digugat membentuk tim yang berpengalaman di bidang perkara tersebut. Jangan menunggu mendekati hari sidang.

3. Cek isi panggilan dan gugatan

Catat nomor perkara, pengadilan, tanggal sidang, siapa penggugatnya, dan apa tuntutannya. Pelajari seluruh dokumen gugatan.

4. Tentukan siapa yang mewakili perusahaan

Dalam hukum acara perdata, direksi atau pengurus badan hukum pada dasarnya berkedudukan sebagai pihak yang mewakili badan hukum tersebut. Direksi PT juga dapat memberi kuasa tertulis kepada orang lain, misalnya advokat atau karyawan tertentu, untuk melakukan perbuatan hukum tertentu atas nama PT. Pastikan surat kuasa dibuat dengan benar.

5. Siapkan dokumen dan saksi

Kumpulkan seluruh bukti, tentukan siapa saja yang mengetahui kejadian, dan susun kronologinya.

6. Pahami tahapan umumnya

Biasanya ada upaya perdamaian atau mediasi pada tahap awal. Mediasi merupakan kewajiban dalam perkara perdata menurut Pasal 130 HIR dan PERMA Nomor 1 Tahun 2016. Setelah itu berlanjut ke tahap jawaban dan pembuktian. Pengadilan juga sudah memakai sistem e-court sehingga sebagian proses, termasuk pemanggilan dan jawaban, dapat berlangsung secara elektronik, jadi pantau akun dan email yang terdaftar.

7. Pertimbangkan penyelesaian damai

Tidak semua perkara harus dimenangkan sampai putusan. Opsi damai, cicilan, atau penyelesaian sebagian sering kali lebih hemat waktu dan biaya, tapi harus dipertimbangkan dengan nasihat hukum.

8. Ketahui jenis gugatan sederhana

Untuk gugatan wanprestasi atau perbuatan melawan hukum dengan nilai paling banyak Rp500 juta, ada jalur gugatan sederhana dengan tata cara yang lebih singkat dan ringkas. Dalam jalur ini, para pihak diwajibkan hadir dan boleh didampingi kuasa, dan hakim dapat memerintahkan sita jaminan atas harta tertentu. Jadi perkara dengan nilai di bawah batas ini bukan berarti bisa diabaikan.

 

 

APA YANG SEBAIKNYA DIHINDARI

- Mengabaikan surat atau panggilan karena dianggap gertakan.

- Membalas dengan marah, mengancam, atau mengeluarkan pernyataan publik di media sosial.

- Menghapus atau mengubah data dan dokumen terkait, karena bisa memperburuk posisi Anda.

- Mengakui atau menandatangani sesuatu tanpa memahami dampaknya.

- Menghubungi pihak lawan atau saksi secara langsung dengan cara yang bisa dianggap menekan.

- Menyerahkan semua urusan ke satu karyawan tanpa kuasa tertulis yang jelas.

- Menunda mencari bantuan hukum sampai mendekati hari sidang.

 

KAPAN SEGERA MENGHUBUNGI ADVOKAT?

- Anda menerima panggilan sidang atau dokumen gugatan.

- Nilai tuntutan besar atau menyangkut hal penting bagi usaha.

- Ada ancaman pidana, sita, atau tindakan terhadap aset.

- Perkara melibatkan karyawan, pemegang saham, atau mitra penting.

- Anda tidak yakin apakah somasi itu sah atau apa dampaknya.

- Perkara menyangkut kekayaan intelektual atau data pribadi.

 

CARA MENCEGAH SUPAYA TIDAK SAMPAI KE SINI

- Buat kontrak tertulis yang jelas. Lihat artikel kami tentang membuat kontrak kerja sama yang aman untuk UMKM.

- Kelola piutang dan kewajiban pembayaran dengan disiplin. Lihat artikel kami tentang piutang macet.

- Dokumentasikan keputusan dan komunikasi penting.

- Rapikan legalitas dan kepatuhan perusahaan.

- Tunjuk pihak yang bertanggung jawab atas urusan hukum dan korespondensi resmi.

- Tanggapi keluhan atau teguran sejak dini sebelum membesar.

 

CHECKLIST 48 JAM PERTAMA

1. Catat tanggal dan cara surat atau panggilan diterima.

2. Simpan dokumen asli dan salinannya.

3. Baca tuntutan, dasar, dan tenggat dengan teliti.

4. Beritahu direksi dan tunjuk penanggung jawab.

5. Amankan semua bukti, jangan hapus apa pun.

6. Kumpulkan kontrak, faktur, dan korespondensi.

7. Hubungi advokat untuk menilai langkah selanjutnya.

8. Jangan membalas atau mengakui apa pun sebelum dipertimbangkan.

 

KESIMPULAN

Somasi atau gugatan tidak berarti Anda pasti bersalah, dan tidak berarti Anda pasti kalah. Yang menentukan adalah bagaimana Anda menanggapinya sejak hari pertama. Tenang, catat, amankan bukti, dan cari bantuan hukum. Semakin awal Anda bertindak, semakin banyak pilihan yang tersedia.

 

BUTUH BANTUAN MENGHADAPI SOMASI ATAU SENGKETA?

Tim Colegal Indonesia siap membantu menilai somasi yang Anda terima, menyiapkan tanggapan, dan mengarahkan Anda ke langkah hukum yang tepat dengan cepat dan transparan. Hubungi kami untuk konsultasi.

Cerita Wulan dalam artikel ini hanyalah ilustrasi. Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat hukum untuk kasus tertentu.