Teman Jadi Partner Bisnis: Cara Membagi Saham dan Peran Tanpa Ribut
Memulai bisnis bersama teman terasa menyenangkan: sudah saling kenal, saling percaya, dan punya mimpi yang sama. Tapi justru karena akrab, banyak pasangan partner menunda membicarakan hal yang tidak enak, seperti siapa dapat berapa, siapa mengerjakan apa, dan bagaimana kalau salah satu mundur. Padahal, menurut pengalaman banyak pelaku usaha, retaknya kerja sama sering bukan karena bisnisnya gagal, tetapi karena hal-hal itu tidak pernah disepakati. Berikut cara membicarakannya tanpa drama.
CERITA ILUSTRASI: TIGA TEMAN DAN SATU STARTUP
Dani, Eka, dan Fajar teman kuliah. Mereka sepakat membuat usaha jasa desain. Karena "kan teman", saham dibagi rata sepertiga-sepertiga dan tidak ada yang menulis apa pun. Setahun kemudian, Dani bekerja penuh waktu, Eka hanya sempat sesekali, dan Fajar pindah kota lalu mulai jarang aktif. Saat usaha mulai menghasilkan, ketiganya berselisih: apakah pembagian sepertiga masih adil? (Ini cerita rekaan untuk ilustrasi, bukan kasus nyata.)
Masalah mereka bukan niat buruk. Mereka hanya belum membicarakan ekspektasi sejak awal.
HAL PERTAMA: BEDAKAN SAHAM DAN PERAN
Dua hal ini sering tercampur, padahal berbeda:
- Saham menentukan kepemilikan: seberapa besar bagian Anda atas perusahaan, hak suara, dan bagian dividen.
- Peran menentukan siapa mengerjakan apa: siapa yang memimpin, mengelola keuangan, memasarkan, atau mengurus operasional. Peran bisa dijalankan sebagai direksi, komisaris, atau posisi kerja lain.
Anda bisa memiliki saham tanpa terlibat sehari-hari, dan sebaliknya. Memisahkan keduanya membuat pembicaraan lebih jernih.
CARA MEMBAGI SAHAM
Tidak ada rumus tunggal yang paling adil. Yang penting, pembagian itu disepakati dengan sadar dan masuk akal untuk semua pihak. Beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan:
1. Modal yang disetor
Siapa menyetor uang, berapa, dan kapan.
2. Waktu dan komitmen
Siapa bekerja penuh waktu dan siapa paruh waktu.
3. Keahlian dan kontribusi
Siapa yang membawa ide, produk, relasi, atau keahlian kunci.
4. Risiko yang ditanggung
Siapa yang meninggalkan pekerjaan lain, atau memakai aset pribadi.
5. Rencana jangka panjang
Apakah akan ada investor baru atau tambahan anggota tim di masa depan, sehingga porsi akan terdilusi.
Pembagian rata (misalnya 50:50 atau sepertiga) terasa adil dan nyaman, tapi sering memicu masalah kalau kontribusi nyatanya berbeda. Dan pada komposisi yang sama kuat, keputusan bisa buntu. Pertimbangkan juga porsi yang menentukan siapa memegang suara terbanyak.
CARA MEMBAGI PERAN
- Tulis siapa menjabat apa, misalnya direktur utama, direktur, atau komisaris, dan apa tanggung jawab tiap orang.
- Pisahkan "peran" dari "saham": orang yang mengerjakan banyak hal bisa mendapat gaji, bukan hanya saham.
- Tentukan wewenang keputusan: apa yang bisa diputuskan sendiri, dan apa yang butuh persetujuan bersama. Misalnya pengeluaran di atas nominal tertentu atau perjanjian bernilai besar.
- Tentukan cara menilai kinerja dan apa yang terjadi jika seseorang tidak lagi menjalankan perannya.
APA YANG SEBAIKNYA DITULIS SEBELUM MULAI?
Pertimbangkan membuat perjanjian pemegang saham, selain akta pendirian dan anggaran dasar. Dokumen ini bisa mengatur hal-hal yang lebih rinci, misalnya:
1. Porsi saham dan peran
Siapa memiliki berapa, dan siapa menjalankan apa.
2. Setoran modal
Berapa, kapan, dan apa konsekuensinya jika terlambat.
3. Dividen dan gaji
Bagaimana laba dibagi, dan apakah ada gaji untuk yang bekerja penuh waktu.
4. Pengambilan keputusan
Keputusan apa yang butuh persetujuan semua pihak atau mayoritas tertentu, dan cara menyelesaikan kebuntuan.
5. Jika salah satu ingin keluar
Apakah saham harus ditawarkan lebih dulu ke partner lain, dan bagaimana cara menentukan harganya.
6. Jika salah satu berhenti bekerja
Apakah ada mekanisme bahwa saham diperoleh bertahap seiring waktu, sehingga yang cepat mundur tidak membawa seluruh bagiannya.
7. Persaingan dan kerahasiaan
Bolehkah partner membuka usaha serupa, dan bagaimana menjaga informasi usaha.
8. Penyelesaian sengketa
Mulai dari musyawarah, lalu cara lain bila tidak ketemu titik temu.
Perjanjian semacam ini perlu disusun dengan bantuan profesional agar tidak bertentangan dengan UU PT maupun anggaran dasar perusahaan.
HAK PEMEGANG SAHAM YANG PERLU DIKETAHUI SEJAK AWAL
Menjadi pemegang saham minoritas bukan berarti tanpa perlindungan. Misalnya, pemegang saham yang bersama-sama mewakili minimal 1/10 saham dengan hak suara dapat meminta RUPS diadakan. Dan pada prinsipnya, pemegang saham PT tidak bertanggung jawab pribadi atas perikatan perseroan, selama harta pribadi dan perusahaan tidak dicampur. Pelajari lebih lanjut di artikel kami tentang hak dan kewajiban pemegang saham.
KESALAHAN YANG SERING TERJADI
- Membagi saham rata hanya karena "kan teman".
- Tidak menulis apa pun karena merasa saling percaya.
- Tidak membicarakan skenario terburuk: salah satu mundur, jatuh sakit, atau tidak lagi aktif.
- Mencampur uang pribadi dan uang usaha.
- Membagi peran secara lisan lalu berbeda ingatan di kemudian hari.
- Mengambil keputusan penting lewat chat tanpa catatan resmi atau RUPS.
TIPS MEMBICARAKANNYA TANPA CANGGUNG
- Mulai dengan kalimat sederhana: "Supaya persahabatan kita awet, yuk kita tuliskan kesepakatannya dari sekarang."
- Bahas satu per satu, jangan sekaligus.
- Pakai contoh skenario, misalnya "kalau salah satu dari kita mau keluar, bagaimana?"
- Libatkan pihak ketiga yang netral, misalnya konsultan, untuk membantu merumuskan.
- Tinjau ulang kesepakatan secara berkala, karena kondisi usaha berubah.
KESIMPULAN
Bisnis bersama teman paling kuat saat persahabatannya dan kesepakatannya sama-sama dijaga. Menulis pembagian saham, peran, dan aturan main di awal bukan tanda tidak percaya, melainkan bentuk saling menghargai. Lebih baik berbicara canggung hari ini daripada berselisih besar di kemudian hari.
BUTUH BANTUAN MENYUSUN PEMBAGIAN SAHAM DAN PERJANJIAN PEMEGANG SAHAM?
Tim Colegal Indonesia siap membantu Anda memilih bentuk badan usaha, menyusun anggaran dasar dan perjanjian antar pemegang saham, serta mengurus pendiriannya dengan cepat dan transparan. Hubungi kami untuk konsultasi.
Cerita Dani, Eka, dan Fajar dalam artikel ini hanyalah ilustrasi. Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan nasihat hukum untuk kasus tertentu